Rabu, 18 Mei 2022

Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke          :1

Gelombang ke     :26

Tanggal                 :18 Mei 2022

Tema                    : Ide Menulis Bagi Guru

Nara sumber        : Wijaya kusumah, M.Pd

Moderator             : Dail Ma'ruf


Alhamdulillahirabbil alamin, saya sangat bersyukur bisa tergabung dalam kelas Pelatihan Belajar Menulis PGRI yang di batch 26. Malam ini Rabu, tertanggal 18 Mei 2022 kami mulai belajar. Semua peserta sangat antusias untuk menampung ilmu.


Tema perdana mengusung mengenai Ide untuk menulis. Kali ini dengan nara sumber yang luar biasa, tak tangung-tangung founder Kelas Pelatihan Menulis PGRI  yaitu Bapak Wijaya Kusumah, M. Pd. yang biasa dikenal dengan panggilan Om Jay turun gunung langsung. Beliau saya lihat di profilnya sudah sangat tinggi jam terbangnya serta telah mumpuni di bidang tulis-menulis khususnya di Blog.


Pemaparan beliau menyatakan bahwa menulis itu harus dimulai dan harus dibiasakan secara konsisten. Karena apa, segala hal bisa menjadi sumber ide. Foto dan  video yang kita dokumentasikan lalu bisa dijabarkan dengan narasi. Teruslah menulis dan menulis nanti akan menjadi kebiasaan.


Beliau menyarankan agar kita menulis di Blog. Dengan alasan di Blog kita bebas berkreasi menulis serta diberi tips agar kita sebagai penulis pemula di Blog bisa optimal. Yaitu belajar pada yang ahlinya, serta buatlah judul yang menarik, jangan lupa menulis setiap hari dan menyebarkannya di media sosial. Terakhir, rajinlah blog walking.


Pesan yang sangat melekat adalah jadikanlah menulis itu kebutuhan, seperti makan dan minum. Kalimat saktinya adalah :


Menulislah setiap hari dan lihat apa yang akan terjadi


Demikian sekilas resume yang dapat saya buat. Terima kasih atas ilmu serta motivasi yang telah ditularkan. Semoga kami bisa mengikuti jejak Om Jay. Semangat terus untuk menulis setiap hari. Ayo, kita action. Semoga sehat selalu dan tak lupa ilmu yang diberi menjadi ladang amal dan pahala jariyah yang terus mengalir untuk Om Jay. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Sabtu, 14 Mei 2022

Entahlah

Aku menghela napas, pantulan wajahku dicermin terlihat kuyu dan tidak bersemangat. Pikiran melayang, ke mana-mana.


Hati sedang mengingat seseorang yang beberapa hari ini sangat mengalihkan duniaku. Sosok lelaki yang bukan layak untuk lagi diganggu gugat, alias suami orang.


Mau jadi pelakor? Nggak lah. Entah hati ini salah pula dia meletakkan rasa, terus logika seakan terkalahkan begitu saja. Dasar!


Tiba-tiba tubuhku tersentak mendapati pada cermin yang kulihat dengan pandangan kosong. Pada kiri dan kananku muncul sosok dengan wajah mirip denganku yang membedakan hanya sebelah kanan dominan warna putih, ekpresi lembut dan hei, ada sayapnya. Kebalikannya di sebelah kiriku serba hitam paras wajah yang bengis.


"Lanjutkan imajinasi dan raihlah, kau layak bahagia!" seru si Hitam.


"Tidak! Jangan! Ingatlah, mau kau jadi pelakor?" balas si Putih dengan nada lembut.


Aku masihan bingung, kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Aku, tak tahu, aku-" Aku tergemap, masih merasa aneh sekarang.


"Sayangkan jika dilewatkan, lelaki segagah itu," ucap si Hitam meyakinkan.


"Kamu yang tergila-gila dengannya, sementara dia, mana peduli, yakin kau dicintai, hah!" Kali ini si Putih berkata dengan nada sedikit menghentak seakan menyadarkanku.


Benar kata si Putih, apalah aku hanya wanita biasa banyak memiliki kekurangan. Harus sadar diri bukan gadis belia, perawan dan masih mulus seperti dulu. Nyatanya aku harusnya rendah diri. Dia begitu memesona dengan segala kelebihannya. Diriku gila.


"Dia juga memiliki kekurangan, yang istrinya ketahui, kamu jangan membuat celah, membuka peluang, kamu harus bersyukur dengan hidupmu, apa yang kau cari lagi. Anak-anakmu lihat." Si Putih panjang lebar kali ini berbicara.


"Ah, apalah kau ini, dia itu butuh itu, haknya dong inginkan bahagia juga, urusan yang lain nanti saja dipikiran." Si Hitam nyolot.


"Tidak bisa!" Putih emosi.


"Apanya yang tak bisa. Bisalah!"


"Tidak boleh!"


"Boleh!"


Aku yang mendengar si Hitam dan Putih bersahut-sahutan akhirnya, naik emosi.


"Cukup!" Aku menutup kedua telinga dengan telapak tangan.


"Kalian bertengkar lanjut di luar sana, gih!"


Aku berdiri dari duduk, menuju ke ranjang berlalu melewati mereka berdua. Dua-duanya memasang wajah bengong. Biarin, sesekali aku marah pada hal yang membuatku harus memilih. Entahlah, tepok jidat, kepalaku mendadak berdenyut.


Perasaan Anak Broken Home

Tawa derai yang dulu tercipta dalam kebersamaan. Hangatnya suasana kelurga dalam canda suka maupun duka. Saling berbagi rasa dan mencurahkan kasih sayang. Merupakan kenangan yang terpatri dari seorang anak ketika menjalani kehidupan dalam suatu keluarga.


Tiada seorang anak pun di dunia ini menginginkan dicap anak broken home. Ketika keadaan tak lagi sama, semua terasa berbeda karena entah karena keegoisan orang tua semerta. Mereka inginkan bahagia sesuai versinya.


Dihadapakan dengan situasi sulit, apalagi harus memilih di antara satu, ikut ibu atau ayah. Jangan kira terlihat kami biasa saja. Ada luka yang penuh sayatan perih terasa.


Ada yang asing, perasaan tak lagi nyaman.Tiada lagi rasanya tempat mengadu. Apalagi jika masing-masing mereka telah melabuhkan cinta pada orang baru. Mulailah ada kata tiri pada silsilahku.


Ada rasa iri ketika melihat mereka atau anak-anak lainnya  yang dilindungi dan hidup dalam belaian kasih kedua orang tua.


Percayalah, perceraian secara baik-baik pun menyisakan jejak luka yang terekam pada diri anak yang polos. Luka berdenyut pedih, terlalu dalam, bahkan seumur hidup tak akan hilang. Itu aku, hiks. 😭😭😭😭

Pantulan

Sesuatu berimbas balik, ya kata kuncinya saling. Ada keterkaitan, hubungan timbal balik yang bisa terkadang kita sadari atau bahkan terlupakan.


Bisa saja yang terjadi itu tidak lepas dari reaksi dari diri sendiri lalu ke orang lain maupun sebaliknya. Ada value atau nilai yang harus dimunculkan terlepas dari karakter yang ditampilkan. Kali ini aku sedikit bingung juga dengan apa yang kutulis. Hehehe, ada-ada saja ya, akunya.


Intinya gini, deh. Sikap orang lain terhadap kita adalah reaksi atas apa yang telah kita lakukan. Seringkan kita mendengar ketika kecil dimarahin atau diberi nasihat. Kira-kira begini kalimatnya, jika kamu tidak ingin sakit dicubit maka jangan mencubit orang lain. Ya, kan. Tepatnya ada pada kalimat keren ini : Change yourself first and world will follow then


Balasan atas sikap atau perlakuan seseorang memang tidak mutlak, kebanyakan begitulah kejadiannya, Bagaimana pula seseorang yang mencoba apatis dengan sikap seseorang yang selama ini mati-matian dia perhatikan. Nyatanya sampai pada batas di mana sudah merasa muak. Memilih untuk diam dan mengabaikan. Sama seperti cinta yang tak diperhatikan, sikap kebencian yang tak digubris juga ternyata menyakitkan.


Seseorang membenci kita, dan kita tidak perlu memikirkannya. Mungkin dia akan merasakan sakit berlipat, yah, tanpa membalas atau melakukan hal menyakiti. Ternyata cukup dengan : abai. 

Fiksi Koruptor Part 2

Mas Danu dan aku baru saja melaporkan hasil penjualan mobil kepada bapak serta sekalian bukti uang yang telah diserahkan ke pihak mesjid. Semuanya. Secarik senyum puas tergambar dari wajah bapak.


Padahal tanpa sepengetahuan yang lainnya, aku dan Mas Danu berhasil membuat data palsu. Uang penjualan itu sepenuhnya kami ambil dan kami jadikan untuk pengambilan uang muka mobil baru. Sisanya tentunya akan kami habiskan.


Aku kini sedang menikmati hobi belanjaku, beberapa koleksi perhiasan dan segala penunjang penampilanku segera terpenuhi. Begitu juga dengan Mas Danu sudah pun memamerkan mobil mungil kami berupa mobil merek sedan keluaran terbaru. 


Bapak tersenyum melihat kami begitu berbahagia. Sempat ia penasaran dan bertanya dari mana kami mendapatkan uang yang banyak. Maka tercetuslah bahwa kami baru mendapat pinjaman dana segar dari salah satu teman Mas Danu, jawabku berkilah.


"Oh, Bapak hanya mengingatkan, jangan ikuti jejak, Papa ya, Nak. Hidup dengan penyesalan itu sungguh menyiksa." Ia mengingatkanku.


Akunya hanya tersenyum getir lalu cepat menunduk, mengangguk. Padahal sedang menyembunyikan mukaku yang terasa panas.


Beberapa bulan berlalu, tanpa ada hal berarti yang terjadi. Hingga saat itu tiba, saat aku baru saja bersiap mengantar Bapak untuk kontrol ulang berobat ke rumah sakit.


"Nay, Danu laju sikit, dada Ba-pak dah se-se-sak," lirih Papa.


Napas Papa tersenggal dengan dada yang turun naik. Ia kepayahan bernapas. Aku terkejut, begitu juga dengan Mas Danu yang langsung dengan spontan melajukan mobil. Kecepatan pada jalanan ramai, sesekali membuat Mas Danu mengerem mendadak, sampai-sampai menimbulkan decit bunyi gesekan ban pada aspal.  


"Cepeten, Mas!" seruku setengah  berteriak, aku yang duduk si samping Bapak begitu panik. Aku takut serangan jantung kali ini akan merengut nyawanya. Jarak rumah sakit masih ada sekitar sekilo lagi.


Baru saja mulutku mendesak Mas Danu, terdengar suara benturan yang amat keras. Seiring dengan goncangan dan menghantam tubuhku dengan kuat. Bapak yang berada di samping tak bisa kulihat lagi. Hentakan yang menyakitkan menjalari membuat remuk seluruh tubuh. Aku terpejam ketika merasakan lelehan dari kening cairan kental masuk ke mata. Sempat suara teriakan histeris tertangkap telingaku dan setelah itu gelap.


***

Next lagikah?


Pujian


Pernah dipuji? Pasti dong. Gimana, gimana rasanya. senang la ya. Suatu kekaguman orang lain kepada diri kita. Wah, melayang ke mana-mana. Bahagialah itu.


Kita semua suka akan pujian. Manusiawi! 


Tahukah kamu dibalik pujian itu ada beberapa macam motifnya, nah loh? selama hidup kita semakin dewasa dan mengerti suatu hal terkadang apa yang kita lihat maupun dengar tak selamanya seperti yang tampak, ya kan.


Ketulusan dalam pujian sangat jarang atau hanya sekadar basa-basi bahkan bentuk suatu rasa iri dengki yang dibalut dengan ucapan yang keluar dari bibir manis.


Pujian juga akan melenakan, seseorang akan termotivasi atau bahkan menjadi jemawa. Timbul rasa perasaan diri lebih baik dari orang lain, biasanya disebut ujub.


Seseorang pernah mengatakan begini, jika rasa ujub sudah hadir ingatlah di atas langit masih ada langit, masih banyak orang lain yang pencapaiannya lebih hebat dari kita. Oh, apakah ini akan melahirkan pula rasa rendah diri atau ketidak percayaan pada diri, tidak! Ya, kita akan seharusnya termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi ya.


Gitu ya, yuk saling memuji dan bergerak ke arah yang lebih maju. Pujian yang tulus tentunya. Ok

Kamis, 05 Mei 2022

Fiksi Koruptor

🚗 

Aku baru saja selesai membuatkan teh untuk Bapak. Segera aku antar ke teras, dia memang setiap sore sangat suka duduk di depan rumah. Saat aku menghampiri, bapak duduk bukan menghadap jalan, tetapi kursinya bergeser menghadap ke garasi.

 

Wajah yang banyak kerutan itu terlihat termangu menatap kosong pada mobil Innova putih yang terparkir.

 

“Pak, tehnya,” sapaku membuat beliau tersadar dari lamunan. Aku letakkan pada meja kecil di sisinya.

 

Lelaki yang berusia hampir enam puluh dua itu tersenyum hambar.  Dia menghela napas berat, seperti ada beban berat yang sedang dirasakan.

 

“Nay, kita jual saja mobil ini ya,” lirih Bapak berucap.

 

Wanita dan Skincare

  Skincare diambil dari Bahasa Inggris yang artinya skin artinya kulit sedangkan care artinya peduli jadilah skincare   adalah berbagai   ...